Sejarah Banjar Belong

Banjar Belong memiliki sejarah yang tumbuh dari kisah leluhur yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. Dahulu kala, seorang pemburu yang berasal dari Banjar Pujung Kaja melakukan perjalanan berburu hingga memasuki kawasan hutan yang lebat. Dalam perjalanan tersebut, ia tersesat dan kehilangan arah untuk kembali pulang.

Di tengah kebingungannya mencari jalan keluar, sang pemburu menemukan sebuah tempat yang disebut Pelong, sebuah kawasan yang menyerupai danau alami. Di tempat itulah ia dipercaya menerima sebuah pawisik atau wahyu yang berbunyi bahwa apabila dirinya ingin menemukan jalan pulang, maka kelak ia harus menetap di tempat tersebut.

Setelah menerima pawisik itu, sang pemburu akhirnya berhasil menemukan kembali jalan menuju rumahnya. Setibanya di rumah, ia segera mengajak keluarganya untuk berpindah dan menetap di kawasan Pelong sebagai bentuk penghormatan terhadap wahyu yang diterimanya. Seiring berjalannya waktu, kawasan Pelong berkembang menjadi sebuah permukiman masyarakat dan kemudian dikenal dengan nama Banjar Belong seperti saat ini.

Kisah tersebut hingga kini menjadi bagian penting dari identitas Banjar Belong, yang mencerminkan nilai spiritualitas, keteguhan hati, serta keterikatan masyarakat dengan warisan leluhur dan alam sekitarnya.

Topografi Wilayah

Banjar Belong merupakan salah satu wilayah Banjar Dinas yang berada di wilayah administratif Desa Taro. Banjar ini memiliki luas wilayah kurang lebih 80 hektar, dengan kondisi wilayah yang mendukung aktivitas permukiman, pertanian, serta pengembangan potensi ekonomi masyarakat.

Secara geografis, Banjar Belong memiliki batas wilayah sebagai berikut:

  • Sebelah Timur berbatasan dengan Banjar Jati, Desa Sebatu
  • Sebelah Utara berbatasan dengan Banjar Patas
  • Sebelah Barat berbatasan dengan Banjar Tebuana
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Banjar Taro Kaja

Letak wilayah yang strategis serta kondisi alam yang subur menjadikan Banjar Belong sebagai salah satu kawasan yang memiliki potensi pengembangan ekonomi masyarakat berbasis pertanian dan kerajinan tradisional.

Kependudukan

Banjar Belong dihuni oleh masyarakat yang hidup dalam suasana sosial yang harmonis serta menjunjung tinggi nilai gotong royong dan adat istiadat Bali.

Jumlah penduduk Banjar Belong tercatat sebanyak 775 jiwa, terdiri dari:

  • 397 jiwa laki-laki
  • 378 jiwa perempuan

Mayoritas masyarakat Banjar Belong memeluk Agama Hindu dan tetap menjaga tradisi, budaya, serta nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Kehidupan masyarakat adat dan kegiatan sosial keagamaan masih menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari warga Banjar Belong.

Potensi Banjar

Banjar Belong dikenal sebagai salah satu wilayah di Desa Taro yang memiliki potensi ekonomi masyarakat yang cukup besar, khususnya pada sektor kerajinan dan pertanian.

Salah satu potensi unggulan Banjar Belong adalah kerajinan paras Taro. Sekitar 60% masyarakat Banjar Belong berprofesi sebagai pengerajin paras, yang menghasilkan berbagai bentuk ukiran dan material bangunan bernilai seni tinggi. Kerajinan ini tidak hanya menjadi sumber penghasilan utama masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari identitas ekonomi kreatif Banjar Belong.

Selain sektor kerajinan, luasnya wilayah yang dimiliki Banjar Belong juga dimanfaatkan sebagai lahan pertanian produktif. Sekitar 40% masyarakat bekerja di sektor pertanian dengan memanfaatkan kesuburan tanah dan kondisi alam yang mendukung aktivitas bercocok tanam.

Perpaduan antara sektor kerajinan tradisional dan pertanian menjadikan Banjar Belong sebagai wilayah yang memiliki kekuatan ekonomi berbasis budaya dan sumber daya lokal, sekaligus menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung perkembangan Desa Taro secara berkelanjutan.