Taro, Tegallalang – Pemerintah Desa Taro menerima kedatangan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Mahasaraswati Denpasar Angkatan ke-49 Periode II Tahun 2026 dalam kegiatan pembukaan sekaligus koordinasi awal pelaksanaan program KKN yang berlangsung di Kantor Desa Taro, Senin (27/7/2026). Kegiatan ini turut dihadiri oleh Perbekel Taro I Wayan Warka, Bhabinkamtibmas (Bimas) Desa Taro, Ketua Pokdarwis Desa Wisata Taro, jajaran perangkat desa, serta seluruh mahasiswa peserta KKN yang akan melaksanakan pengabdian di Desa Taro. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pelaksanaan KKN yang berlangsung pada 20 Juli hingga 24 Agustus 2026, sebagaimana tercantum dalam surat undangan resmi Universitas Mahasaraswati Denpasar.

Dalam arahannya, Perbekel Taro I Wayan Warka menyampaikan apresiasi atas kehadiran mahasiswa KKN di Desa Taro sebagai bagian dari sinergi antara perguruan tinggi dengan pemerintah desa dalam mendukung pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Namun demikian, beliau juga menyampaikan rasa keprihatinan karena pada kegiatan pembukaan dan koordinasi awal tersebut tidak dihadiri oleh dosen pembimbing lapangan yang seharusnya memiliki peran penting dalam mendampingi mahasiswa sejak awal pelaksanaan program.
Menurut Perbekel, kehadiran dosen pembimbing merupakan bagian penting dalam membangun komunikasi, menyamakan persepsi, serta memastikan seluruh program kerja mahasiswa berjalan sesuai dengan kebutuhan desa, tujuan akademik, dan ketentuan pelaksanaan KKN. Melalui pendampingan yang baik, koordinasi antara pemerintah desa, mahasiswa, dan pihak perguruan tinggi diharapkan dapat berlangsung lebih efektif sehingga pelaksanaan program memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat.

Selain menyampaikan evaluasi tersebut, Perbekel Taro juga memberikan berbagai masukan strategis kepada mahasiswa agar setiap program yang dirancang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat, bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik. Mahasiswa diharapkan mampu membangun komunikasi aktif dengan pemerintah desa, lembaga desa, serta masyarakat sehingga seluruh kegiatan yang dilaksanakan benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Pokdarwis Desa Wisata Taro menegaskan pentingnya koordinasi sejak tahap awal sebelum penyusunan maupun pelaksanaan program kerja. Menurutnya, Desa Taro memiliki karakteristik yang unik sebagai desa wisata, desa adat, sekaligus desa dengan potensi pertanian, lingkungan, budaya, dan spiritual yang terus berkembang. Oleh karena itu, seluruh program mahasiswa harus disusun berdasarkan kondisi riil di lapangan sehingga mampu memberikan kontribusi yang relevan terhadap pengembangan Desa Wisata Taro.

Masukan serupa juga disampaikan oleh IT Desa Taro, yang mendorong mahasiswa untuk melakukan penelitian awal, observasi lapangan, identifikasi potensi, serta evaluasi kebutuhan masyarakat sebelum menetapkan program kerja KKN. Pendekatan berbasis data dan fakta diyakini akan menghasilkan program yang lebih tepat sasaran, terukur, dan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat Desa Taro.
Dalam sesi diskusi, pemerintah desa juga memberikan berbagai arahan mengenai pentingnya sinergi lintas sektor, komunikasi yang intensif dengan perangkat desa, serta pelaksanaan kegiatan yang selaras dengan agenda pembangunan desa. Mahasiswa diharapkan mampu menjadi mitra pemerintah desa dalam menghadirkan inovasi, edukasi, serta solusi yang aplikatif sesuai dengan potensi dan kebutuhan masyarakat setempat.

Kegiatan pembukaan berlangsung dalam suasana terbuka, komunikatif, dan penuh semangat kolaborasi. Berbagai masukan yang disampaikan oleh Pemerintah Desa Taro diharapkan menjadi bekal bagi seluruh mahasiswa KKN Universitas Mahasaraswati Denpasar dalam menyusun serta melaksanakan program kerja yang lebih berkualitas, adaptif, dan berdampak nyata bagi kemajuan Desa Taro.