Taro, 12 Juli 2026 – Suasana religius yang penuh kekhidmatan menyelimuti Desa Adat Taro pada Rahina Redite Keliwon Pujut, Minggu (12/7/2026), ketika Sesuwunan Jagat Taro, Ida Ratu Anom Pura Sanghyang Alang Taro Kaja, melaksanakan Prosesi Sakral Ngelungang Ngelawang ke Gunung-Gunung, sebuah tradisi suci yang diwariskan secara turun-temurun dan dilaksanakan setiap lima tahun sekali sebagai wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, permohonan kerahayuan jagat, serta pelestarian nilai-nilai luhur agama Hindu dan budaya Bali.

Bagi masyarakat Desa Adat Taro, prosesi ini bukan sekadar perjalanan ritual, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang sarat makna filosofis. Melalui prosesi ini, masyarakat memohon keselamatan, perlindungan, kesejahteraan, kesuburan bumi, keharmonisan alam semesta, serta keseimbangan antara kehidupan sekala dan niskala. Tradisi ini menjadi salah satu warisan adiluhung yang terus dipelihara sebagai wujud pengamalan ajaran Sanatana Dharma dalam kehidupan sehari-hari.

Prosesi dimulai tepat pukul 08.00 WITA, saat Ida Ratu Anom metuwur dari Payogan Beliau di Pura Sanghyang Alang Taro Kaja untuk memulai perjalanan suci menuju kawasan yang dikenal sebagai Gunung-Gunung, yaitu wilayah Desa Adat bagian utara yang meliputi Banjar Adat Alas Pujung, Banjar Adat Sengkaduan, Banjar Adat Let, Banjar Adat Patas, Banjar Adat Belong, hingga Banjar Adat Bonjaka. Setelah menempuh perjalanan spiritual selama kurang lebih delapan belas jam, Ida Ratu Anom mewali menuju Payogan Beliau pada Senin, 13 Juli 2026 pukul 02.00 WITA, menandai berakhirnya seluruh rangkaian prosesi dengan lancar, tertib, dan penuh wara nugraha.

Sepanjang perjalanan suci tersebut, ribuan krama dari berbagai banjar di Desa Taro dengan penuh sraddha dan bhakti mengiringi Ida Ratu Anom mengenakan pakaian adat Bali. Iringan tedung, umbul-umbul, tabuh baleganjur, kidung-kidung suci, serta semangat ngayah yang tulus menciptakan suasana agung yang mencerminkan kokohnya persatuan, kekeluargaan, dan kehidupan religius masyarakat Desa Adat Taro.

Dalam tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, Desa Adat Taro diyakini memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam perjalanan sejarah dan spiritualitas Bali. Berdasarkan warisan yang hidup di tengah masyarakat serta kisah yang dituturkan dalam Markandeya Purana, Taro dikenal sebagai Bhumi Sarwa Ada, sebuah kawasan yang dipilih oleh Ida Maha Rsi Markandeya karena memiliki kelengkapan unsur kehidupan untuk membangun tatanan masyarakat yang berlandaskan dharma.

Dalam keyakinan masyarakat Taro, dari kawasan inilah berkembang nilai-nilai kehidupan yang kemudian menjadi landasan lahirnya tata kehidupan desa adat, sistem pertanian tradisional yang berkembang menjadi subak, serta berbagai tradisi keagamaan yang tetap lestari hingga kini. Oleh karena itu, Desa Adat Taro tidak hanya dipandang sebagai salah satu desa kuno di Bali, tetapi juga sebagai pusat pelestarian warisan spiritual, adat, dan budaya yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Di tengah warisan spiritual tersebut, Ida Ratu Anom menempati kedudukan yang sangat istimewa sebagai Sesuwunan Jagat Taro. Masyarakat meyakini Beliau sebagai stana suci manifestasi kekuatan Dewa Wisnu, Sang Pemelihara dan Pelindung alam semesta dalam konsep Tri Murti. Kehadiran Ida Ratu Anom dimaknai sebagai simbol kasih sayang Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang senantiasa menjaga keseimbangan alam, memberikan perlindungan kepada umat, serta melimpahkan kerahayuan bagi seluruh kehidupan.

Manifestasi tersebut diwujudkan melalui Sesuwunan Barong Bangkal, yang mengambil simbol Varaha, yakni babi hutan suci dalam ajaran Hindu. Simbol ini memiliki keselarasan makna dengan kisah Varaha Avatara, salah satu dari Dasavatara Dewa Wisnu sebagaimana dikisahkan dalam Vishnu Purana, Bhagavata Purana, dan Varaha Purana. Dalam kisah tersebut, Dewa Wisnu menjelma sebagai Varaha untuk menyelamatkan Bhumi Devi (Ibu Pertiwi) dari dasar samudra kosmis setelah ditenggelamkan oleh raksasa Hiranyaksa. Dengan kekuatan ilahi-Nya, Varaha mengangkat kembali Bhumi Devi ke permukaan sehingga keseimbangan alam semesta pulih, dharma kembali ditegakkan, dan kehidupan seluruh makhluk dapat terus berlangsung.

Bagi masyarakat Desa Adat Taro, filosofi tersebut hidup dalam Prosesi Sakral Ngelungang Ngelawang. Perjalanan Ida Ratu Anom ke Gunung-Gunung dimaknai sebagai perjalanan suci untuk menyebarkan kerahayuan, menjaga keseimbangan alam, menyomia atau menetralisir kekuatan-kekuatan negatif, serta memperkuat keharmonisan antara Bhuana Agung dan Bhuana Alit.

Salah satu keunikan yang tetap hidup hingga kini adalah kedekatan spiritual antara masyarakat dengan Ida Ratu Anom. Setiap pelaksanaan prosesi selalu diiringi ribuan umat yang datang dengan penuh ketulusan. Bagi masyarakat Taro, mengiringi Ida Ratu Anom bukan sekadar mengikuti sebuah tradisi, melainkan sebuah bentuk yadnya dan ngayah yang dilakukan dengan tulus sebagai persembahan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa melalui manifestasi-Nya.

Dalam keyakinan masyarakat, Ida Ratu Anom merupakan pengayom jagat yang senantiasa memberikan tuntunan, perlindungan, dan anugerah kepada umat. Oleh karena itu, setiap prosesi menjadi momentum suci bagi masyarakat untuk menghaturkan sembah bhakti dan memohon kerahayuan jagat, keselamatan, perlindungan, kesehatan, keharmonisan keluarga, keberhasilan dalam menjalankan swadharma, serta memohon taksu. Dalam filosofi Bali, taksu dimaknai sebagai anugerah spiritual berupa kewibawaan, kharisma, kebijaksanaan, kekuatan batin, serta kemampuan menjalankan kehidupan sesuai ajaran dharma. Keyakinan inilah yang menjadikan hubungan antara Ida Ratu Anom dan masyarakat Desa Adat Taro tetap terjalin begitu erat dari generasi ke generasi.

Makna luhur prosesi ini sejalan dengan sabda Bhagawan Sri Kresna dalam Bhagavad Gita Bab IV Sloka 8:

“Paritranaya Sadhunam Vinasaya Ca Duskrtam, Dharma Samsthapanarthaya Sambhavami Yuge Yuge.”

“Untuk melindungi orang-orang yang berbudi luhur, membinasakan kejahatan, dan menegakkan kembali dharma, Aku menjelma dari zaman ke zaman.”

Demikian pula doa universal umat Hindu:

“Sarve Bhavantu Sukhinah, Sarve Santu Niramayah, Sarve Bhadrani Pashyantu, Ma Kashcid Duhkha Bhag Bhavet.”

“Semoga semua makhluk hidup berbahagia, semoga semua terbebas dari penderitaan dan penyakit, semoga semua memperoleh kebajikan, dan semoga tidak ada satu pun yang mengalami kesengsaraan.”

Nilai-nilai luhur tersebut hidup dan diwujudkan dalam setiap pelaksanaan Prosesi Sakral Ngelungang Ngelawang Ida Ratu Anom. Tradisi ini tidak hanya menjadi warisan budaya dan keagamaan masyarakat Desa Adat Taro, tetapi juga menjadi simbol hidupnya ajaran Sanatana Dharma yang mengajarkan keharmonisan hubungan antara manusia, alam, leluhur, dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Di tengah perkembangan zaman, prosesi ini tetap menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat untuk terus menjaga adat, melestarikan budaya, memperkuat persaudaraan, serta merawat nilai-nilai spiritual yang telah diwariskan oleh para leluhur. Dengan semangat bhakti, ngayah, dan kebersamaan, masyarakat Desa Adat Taro berharap Ida Sang Hyang Widhi Wasa melalui wara nugraha Sesuwunan Jagat Taro Ida Ratu Anom senantiasa melimpahkan keselamatan, kedamaian, kesejahteraan, kesuburan bumi, serta kerahayuan jagat bagi seluruh umat.

Om Shanti Shanti Shanti Om.


Penulis : Dueg Creative